Piṇḍapāta: Tradisi Kuno Makin Mengaktual dan Indahnya Merawat Toleransi

 

Tradisi Piṇḍapāta - Red/JBN



JAKARTA, JBN Indonesia - Mengenal lebih dalam tradisi umat buddhis "Piṇḍapāta" yang memiliki manfaat dan tujuan yang harus disebarkan di kehidupan umat beragama.  


Arti Piṇḍapāta yaitu mengumpulkan sedekah, berupa gumpalan atau bongkahan makanan yang akan diberikan kepada orang yang kurang mampu, tradisi kuno ini semakin mengktual dan indahnya merawat toleransi umat beragama, karena tradisi ini dapat dinikmati oleh ummat non Buddhis.



Para samaṇa di masa India kuno, mengikuti cara para Buddha dan siswa-siswa Beliau (para suciawan) dan kini masih dikenal dikalangan buddhis, namun juga  kalangan umum, karena terkandung nilai-nilai luhur berupa cinta kasih, maupun welas asih, yaitu sedekah, kemurahan hati, dan latihan melepas atau mengurangi kemelekatan. 


Tradisi ini masih menjadi keseharian para bhikkhu di negara-negara berpenganut Buddhis, seperti Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Srilanka. Masih dirawat dan dijalankan oleh para samaṇa yang hidup sebagai wiharawan dan didukung para perumah tangga, hal itu juga masih dilakukan para bhikkhu/sāmaṇera, di lingkungan vihāra atau dimana terdapat komunitas buddhis. Menariknya lagi, sedekah makanan atau minuman juga diberikan oleh masyarakat dari kalangan non-Buddhis, sekedar ikut memberi tapi hal itu mencerminkan praktik sedekah yang mengandung nilai universal, bentuk toleransi dan saling mengasihi  sesama dengan cara berbagi. 


Kegiatan piṇḍapāta dapat terjadi apabila adanya dua pihak yang saling berinteraksi, antara para samaṇa (bhikkhu/sāmaṇera) dan perumah tangga yang berbakti, kedua pihak (sisi) berbeda seperti telapak tangan itu memiliki dua sisi berbeda namun keberadaannya sama, saling menunjang untuk menuju kebahagiaan yang lebih unggul, dengan dilandasi cinta kasih dan welas asih. Kedua pihak memperoleh manfaat, kebajikan demi kesejahteraan dan kebebasan batin. 


Y.A. Kassapa Thera, salah seorang murid Sang Buddha yang terkenal akan kesederhanaannya, sering mendatangi orang-orang yang susah secara ekonomi (miskin) dan memberi mereka kesempatan untuk membuat jasa kebajikan dengan yang bersedekah agar mereka memiliki kebajikan (karma baik) yang besar berbuah dalam waktu yang singkat dan pelaku kebajikan memperoleh kebahagiaan berupa kenikmatan duniawi. Bahkan, diceritakan para dewa dari alam surga (sugati) tertarik turun ke bumi, dengan mengganti rupa seperti nenek tua miskin, agar bisa berkesempatan berdana sesuap nasi pada Y.A. Kassapa Thera, atau kepada para suciawan lainnya. 


Tujuan dari praktik memberi adalah sebagai pengembangan kedermawanan dengan pelatihan 'melepas' mengurangi kemelekatan untuk mengakhiri penderitaan dengan dasar pengorbanan berupa bagian kepemilikannya. 


Saṅgha Theravāda Indonesia, para bhikkhunya selain merawat tradisi piṇḍapāta dengan menerapkanya di lingkungan vihāra baik di desa, kecamatan, dan kota. Pada momen menyongsong Trisuci Waisak tahun ini juga kembali menyelenggarakan Piṇḍapāta Massal di Jakarta dengan skala nasional. Selain itu piṇḍapāta juga diselenggarakan di kota-kota lainnya dengan skala yang lebih kecil. 


Terima kasih atas segala dukungan dan perhatian dari semua pihak yang terlibat dalam persiapan kegiatan Piṇḍapāta Gema Waisak ini. Semoga kebajikan yang dilakukan berbuah kebahagiaan, serta tercapainya cita-cita luhur. Selamat malakukan perbuatan baik dan semoga kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan senantiasa menyertai. 


(Dituliskan: Bhikkhu Subhapanno Mahathera)


Topik Terkait

Baca Juga :